Monday, February 11, 2013
Keinginan Berbisa
Bermanja-manja dengan alam semakin sering kami lakukan, belum juga beberapa menit, kami sudah berhenti untuk kesekian kalinya, dengan durian yang kami beli dari warga sekitar, seakan terhipnotis untuk setiap pemandangan yang mereka tawarkan, rasa ingin segera mendengarkan alunan metronome dari deburan ombak sipelot, tertunda untuk kesekian kalinya. mata kami kembali tertuju pada pantai dari kejauhan dan ketinggian bukit, tentu saja dengan sebatang rokok dan beberapa durian yang kami nikmati.
Perjalanan akhir: jalanan hampir sempurna, namun inilah titik dimana kuda-kuda kami harus bekerja lebih keras untuk memberikan perlawanan yang maksimal pada aspal yang semakin banyak lobang dan bergelombang. perjalanan panjang, melelahkan, dan terjalnya jalanan membuat kami lebih lihai dalam memacu dan mengendalikan kendaraan, yaaaaah...... memang ombak yang tangguhlah yang membuat nahkoda hebat. Pepohonan; yang kebanyakan kelapa sedikit pohon durian tersapu laju kendaraan, tanpa kami sadari, roda-roda kami terhenti di kampung terakhir. Sebelum kami benar-benar di alam, kami sempatkan untuk mengisi perut kami dengan nasi goreng yang di jual di emperan jalan, dengan pemandangan gereja tua, kami menikmati suap demi suap hidangan hangat itu.
Cuaca yang hampir selalu membuat keringat tercucur keluar, aroma pantai, dan suara khas ombak, hampir sudah dapat kami rasakan. Hingga saat yang di nanti pun datang, kami sejenak terdiam, tanpa kata, setelah kami melihat hamparan lautan, kami berenggan melepas lelah. Di tepi pantai, perlahan kaki kami langkahkan hingga hampir menyentuh lambaian demi lambaian ombak yang mencoba berjabat. hingga akhirnya kami terbius dan hanya suara burung dan deburan ombak meyakinkan kami: berucap selamat, bersapa.
Langit nampak berjelaga kelam, hitamnya membuat kami menyalakan senter dan apapun untuk menggugah kesadaran. Ingin kami bercengkerama lama terbasahkan, namun rasa lelah tetap saja merambah setiap bisep, ekor dan mata yang mulai menawarkan hasrat pembangkangan, kami menyerah terkalahkan. Tenda berdiri kokoh di bawah rindang pohon. Malam ini: adalah tentang bagaimana menyamankan posisi. Dengan kopi dan rokok, kami bercanda membabi buta, gelak tawa memecah hening malam, bersambut tawa akrab kami dengan lautan, hangat kami rasakan. Ejekan, sindiran demi sindiran terarah kepada kami; tiadakah engkau lupa, Akulah ibumu.
Konstelasi berwarna campur, menjadikan malam ini terpanjangkan. Sinar abadi itu menemani kami, hingga lelap merajai, ooooh betapa indahnya dunia bertiwikrama di bawah sinarmu terjagai. Dan cinta berlabuh setelah melewati sederetan obrolan antara kami pengagung kebebasan dan arsitek tanah dan angkasa.
Tak mau berlama-lama dalam ketidak-sadaran, kami kembali bercengkrama. kami melihat keharmonisan lautan dan nelayan adalah representasi harmoni di indah hegemoni, berbagi aman. keceriaan itu lama terjalin, bukti nyata timbal berbalik antara keduanya. Kekangenan antara alam dan kami pun mengajak kami pada percakapan dan perjalanan panjang kami mengeksplorasi secara detail.
Sambutan alam yang hangat sangat berharap pada kedatangan kami untuk kedua dan seterusnya, aku dan teman-teman akan selalu berjanji pada horizon, untuk berkunjung berbagi. Tak lama, kami berkemas dan untuk terakhir kali menjamah ujung lambaian tanganmu mendebur berjanji. Selamat tinggal Ibu, sampai jumpa lagi Sipelot
Monday, November 12, 2012
Senja
senja hendak segera berlalu
dengan disiplin berangkat dan tamat
seorang dara menyusun langkah mungil
mengais rekahan ilusi dan distopia
dan ia menganyamnya di sisa cahaya
sebelum dunia di sesaki jelaga
ia yang menolak menjadi budak takdir
tampak lelah dalam pura-pura bersandiwara
untuk setiap fakta yang diklaim tuhan dan setan
ia mulai mengabsen setiap usaha yang sia-sia
buat apa berjuang dalam hidup?
jika nanti berakhir dengan wajah yang sama
pasca senja,
berteman bulan dan gelap malam
ia simpan setiap kegundahan dan
ceriterakan peliknya hidup dalam mimpi
tak pernah berharap esok kan datang
dan membiarkan mimpi masih berlanjut
karlos
15:09 12/11/2012
Thursday, October 25, 2012
Mt. Penanggungan
Mount Penanggungan is not of a volcano mountain, located immediately on the north side of Arjuno-Welirang volcanic mountain in East Java province, Java island. Several sanctuaries, and sacred places are located on Penanggungan mountain. I can say this mountain is dry, because when I went there with fiends of mine, we couldn’t find any spring but in Jolotundo, there’s a bathing places. This site is connected with a historical figure of Mpu Sendok. We suggest you to bring your own water to supply your necessities on the peak of this mountain, for cooking or thirst your thirsty, you must be need much water to bring with you, the heat of sun burn you from the beginning of the morning.
Hiking on mount Penanggungan is not easy, you need more energy to reach the top of the mountain, it’s not the same as the other mountain commonly, rocky ground area is found on your way tracking this mountain when it’s nearby its peak, an extra energy needed. But we didn’t take it longer time to reach on it, because we know, it is smaller than her neighbor Mt. Arjuno-Welirang or any other mountain. It about four hours summit, no rush.
We as a team have specific purpose to get there, first we are all already know, the landscape upper is much more wonderful to enjoy the stars, the city lights, and the sun gradually rises up. With a cup of coffee, can you imagine where you at that time, fantastic, This what we looking for. Secondly, we were taking some pictures, and find different landscape to capture, this is the main purpose. With the DSLR camera but uuh it’s not recommended, digital pocket camera is quite enough to capture the beauty of nature.
Guys, you can climb to reach the top from several point of departure, a full day’s climbing, but it’s paid with a dozen interesting location, the wild and the landscape, for sure.
Tuesday, September 25, 2012
Biggest Gang
Jika kalian tak pernah bermasalah dengan polisi, ada dua kemungkinan: kalian tak pernah hidup di Indonesia atau kalian bagian dari mereka dan diuntungkan oleh eksistensi mereka. Dude, lets face it. Saking sebalnya kita pada mereka, kadang kita lupa jika mereka juga manusia. Apa mau dikata, menjadi bagian dari mata rantai komando kekuasaan lah pada akhirnya mereka seringkali tidak manusiawi. Mulai dari tameng keserakahan dan pemuas nafsu individu untuk memiliki kekuasaan hingga perpanjangan tangan para elit sekaligus pelindung kekuasaan institusional bernama negara dan korporasi. Sekeras apapun usaha Briptu Norman mencoba merubah citra kepolisian dengan joget India nya, nampaknya tak akan pernah menghapus kemangkelan dari sejarah kekerasan dan kebrengsekan aparat yang intoleran, dan jika saya list disini, daftarnya akan lebih panjang dari daftar file yang terinfeksi virus Ramnit brengsek yang menyerang PC saya sekarang.
Atas nama acara-acara yang mereka bubarkan dan larang atas alasan absurd, para korban palak di jalan dan korupsi kekuasaan bertamengkan lencana mereka dari zaman ke zaman (termasuk korupsi narkotika!), para korban kebrutalan mereka di aksi-aksi demonstrasi dari jaman Harto hingga Beye, para korban kejahatan korporasi dan mafia yang mereka back-up, para korban kekerasan horizontal, premanisme yang mereka biarkan: lets bang these tunes with no remorse!
“Cos you were put here to protect us, But who protects us from you?”- KRS One
Thursday, September 13, 2012
Nyanyian Pinus
Masih terngiang semilir angin yang dibisikkan oleh pucuk-pucuk pinus
Membaur bersama lantunan tembang-tembang syahdu
Menghilangkan beku yang siap menghunus
Dan kamulah alasan hatiku selalu berdebar merdu
Rintik kecil hujan mulai turun menari-nari
Menyikap kabut tebal yang menyelimuti gunung semeru
Aku dan kamu masih tegak berdiri
Berlari berputar bersama edelweis yang menyeru
Tak pernah kulupakan saat-saat bersamamu
Duduk manis di depan perapian
Menikmati cahaya bulan yang menyorot mata oasemu
Memperhatikanmu yang salah tingkah dan gelagapan
Aku rindu caramu mencuri-curi pandang
Aku rindu racikan-racikan guyonan yang kau percikkan
Aku rindu pada pucuk-pucuk pinus yang menjadi teduh kita
: Merindukan Eksotisnya Ranu Kumbolo
Saturday, January 28, 2012
DI HUJUNG PELANGI – CHAPTER #2

-Katarsis Evolusioner-
Saat itu aku melihat kepanikan pada setiap wajah orang yang tak ku kenal, aku sadar, betapa kita sangat takut di dunia ini, rapuh. Satu nafas dan denyut jantung, itulah kesamaan kita. Karena sekarang pandangku tak lagi samar, jalan dan langkahku tidak lagi terjal, aku bebas, sebebas merpati, hinggap dan pergi memacu lintasan semua aral. Sesekali ku tengok lagi tubuh picisan yang terbaring diantara seragam sederetan nisan, aaarghhhhh aku tidak lagi peduli… biarlah, aku sudah terlalu lama khianati kru antipati jiwaku. Hingga hari kuawali pada suaka dimensi dunia baru, semua nampak kasat disaat aku permanen bergerak dalam lamat. Pilu keluarga, saudara, dan kerabat, menjenguk dengan sengkarut upeti bunga pusara dan alunan sakramen mesin pahala. Kedamaian yang tak akan sirna hingga ujung senja. Saat ini ku hanya bisa pandangi pantulan binar disetiap tetesan air yang mengalir perlahan di mata, namun tak sedikitpun kutemui kehadiranku disapa. Masih sangat jelas kuingat hangat, sentuhan demi sentuhan kalian di saat kami berbagi hari-hari, dan kini, hanya taburan diatas remah aku bersemayam kalian sisakan hangatnya kedamaian. Di mataku kulihat fakta, walau banyak orang percaya kehidupan tak berakhir dengan kematian, namun kesedihan membuat kita haus akan sentuhan manusia.
Suara senyap pecah, di awal gelapnya hari, Aku terbangun kembali, untuk membangun lagi reruntuhan berangkal harapan, sekali lagi ku tambatkan rasa sukur mendalam untuk setiap kehampaan yang senyawa diatas semua dimensi ruang, aku panjatkan pada semesta pentasbihan kalam puputan. Sehingga semua makna yang kutemui hari ini lebih berarti, dan berjanji untuk rahim ibu yang melahirkan kombatan, Ku teriak lantang menantang pekat penebar horror di awal hari kutatap fana dunia. Jangan izinkan aku terlelap ibu, untuk setiap hasrat yang kumiliki hari ini, tanpa matahari dan rembulan di lengan kanan dan kiriku. Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam, namun engkau tenangkan aku dengan air susumu agar tetap tenang di awal aku menziarahi hembusan demi hembusan nafasku.
Di barikade terepan aku tumbuh diantara tiga saudara, kombinasi indah untuk mengarungi lagi ganasnya ombak. Ibu, Adalah bagaimana kau ajarkan kami menari dan mengepalkan setiap jemari, aku memujimu tiada henti. Engkau konstruksi angan dan harapan, kau bangun ruang tubuh ideal untuk kami, kau memberikan semuanya. Hingga saat kesulitan-kesulitan yang mencoba menghampiri, kami akan selalu siap menjawabnya. Konstruksi ideal tubuhku tumbuh remaja, ku pancangkan angan-angan dan bernazar untuk menantang masalah, kutautkan tinggi cita-cita agar setiap detik kehidupanku lebih mempunyai arti dan berharga, karena aku sangat sadar dimana aku bisa istirahat dengan sangat tenang, dan tentu tempat itu bukan saat aku dan aku masih bisa menghirup segarnya udara, ya jelas..... di genggaman-Nya aku bisa istirahat. Jadi setiap momen terhidup dalam hidupku adalah berdiri dan menjelajahi setiap kemungkinan-kemungkinan sampai ajal menjeputku lagi.
17:23 28/01/2012 Malang Minggu
Sunday, November 27, 2011
DI HUJUNG PELANGI – CHAPTER ONE
(BERTAHAN, PALING OFENSIF)
Oleh Mukhlis “elf” Rifani
Tubuh sudah terasa lunglai, di hari ini aku dimanjakan dengan kegiatan-kegiatan yang cukup untuk menguras lebih dari separoh energi. Aku mengklaim kebahagiaanku saat itu, aku seakan terbebas dari pikiran-pikiran yang menghantu, beban pikiran yang menagih rotasi kompromi, siklus kehidupan yang memelihara rasa takut di setiap rongga-rongga otakku. Kurasa kebahagiaanku jelas memantul cerminan wajah gembira, kini jaring sadarku menyaingi utopia. Pagiku gelak dan tawa, siangku indah bahagia, malamku ta mau mengalah, di hari sepekat jelaga, epilog kisahku semakin menggila. Sudah ku duga aku akan berubah wujud, tubuh yang sama, roh yang berbeda, sungguh tak nyata tetapi menyenangkan. Terucap tanya di benak ini, “Siapa motor pengendaliku malam ini?” di ujung hari lantang ku tantang pekat ku boikot semua belikat. Atau tubuh ini hanyalah tubuh tanpa pengendali, yang mencoba membangun imaji khayalan dan mempromosikan kebebasan hasrat, di saat ku hanya bisa menunggu saat fana dunia membangunkanku.
Rohku melihat tubuhku dari awang, melayang di antara konstelasi mencari tenang. Perlahan kembali mengingatkan tubuhku, mengalunkan metronom aransemen merdu, bisik hatif kata-kata ayu menusuk tepat di organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perutku. Tetapi semua hanya alunan lirih, jelas kalah nyaring di ruang kedap dengan indikator musik yang merah membara dan gemrincing bunyi gelas yang nampak sering beradu. Akan tetapi, lantang suara lirih terdengar dan kuat indah ujar di saat itu, sejenak membuatku tersadar, pergerakan terasa melambat, seketika senyap, ku arahkan pandang di setiap sudut ruang. Hanya ¼ dari 60 kali ketukan jarum detik kenyataan itu terjadi, dan semua kembali seperti semula. Aku tau ada yang membingungkan, tapi aku tidak tau apa yang sedang berlangsung. Kesadaran itu hadir dan pudar di kala yang sangat singkat, ku terbangun ketika temanku mencoba meraih tanganku tuk bersanding, dan semakin mengukuhkan diriku menemani pergantian hari ini dengan dua kelopak mata menganga. Tidak lagi ku hiraukan bisikan-bisikan lembut itu, walupun Ia datang 2 kali lagi dan mencoba memberikan terapi. Tapi kali ini ku anggap semua suara sama.
Mentari masih enggan ketuk pintu malam. Tubuhku semakin tak berdaya, kulit semakin menempel pada tulang-tulangku, yang tidak lebih berharga dari apapun, dan atau mungkin akan tampak lebih sangat penting untuk makanan belatung di gundukan TPS. Yang sebenarnya merekapun tidak pernah puas dengan kondisi tubuh yang belum tersentuh makanan sejak awal siang. Bahkan Rohku enggan bergandengan tangan lagi denganku. Kegelapan sudah mulai memudar di angkasa, Rohku masih berkelana mencari kedamaian, yang tidak Ia dapatkan di dalam tubuh itu, kebingungaan Rohku meradang dikala ia harus mendapatkan supply porsi “makanan” yang sama sesuai dengan tubuh itu, Ia pun meluncurkan tanya kapan terakhir makanan itu diberi!!?. Rohku kembali dan tidak lagi mengenaliku, perlahan Ia berdiskusi dengan jiwa sompral, aku merasakan perdebatan hebat di antara keduanya. Hingga saat tak lagi ku rasa dan tak lagi bisa ku jenguk angan.
Kedigdayaan mulai goyah, uraian gizi-gizi terjumlah elok di setiap ukiran tubuhku, seketika rapuh. rajutan sengkarut kisah, tentang bagaimana menyamankan posisi dan pembiasaan diri yang menawarkan hasrat pembangkangan di jagat semesta. Aku dan aku bertahan, paling ofensif, yang telah menghadirkan surga-surga dan neraka bersenyawa di atas dunia. Bersama lantunan lagu nyanyian pipit di pepohonan, di saat sinar berpijar mengawali semua kehidupan, aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini. ooh....... betapa indahnya dunia yang berkalang fajar, namun aku harus berdamai dengan takdir. Izinkan aku mendisiplinkan diri kedalam barisan nisan wahai bentangan seluloid dan alam semesta.
Elf
Malang - Karlos
Senin, 28 Nopember 2011;00:35:25
Friday, November 18, 2011
NOUN, VERB, ADJECTIVE, AND ADVERB
Definition :
A noun is a member of syntactic class
> That includes words which refer to peoples, places, things, ideas, or concepts
Nouns :
• Jakarta
n. seaport and capital city of Indonesia situated on the island of Java
• man [mæn]
n. adult male human
• salt [sɔːlt]
n. sodium chloride, common crystalline mineral
• congregation [con•gre•ga•tion ||
n. coming together, assembling
• movement ['move•ment || 'muːvmənt]
n. act of moving, motion; specific type of motion
• student [stu•dent || 'stuːdnt /-tju-]
n. one who is enrolled in a school or college
• Hadi and Udin
male first names
• life [laɪf]
n. state of being alive (manifested by growth, reproduction, etc.);
• country [coun•try || 'kʌntrɪ]
n. state, nation; region; rural area
Examples :
1. Jakarta is the capital of Indonesia
2. I met a man yesterday
3. Salt is necessary for food
4. I see large congregation at mosque
5. We lay there without movement
6. Students’ book
7. Hadi’s sincerity
8. We study to succeed in life
9. Udin always listens to the radio
10. Everyone has to love his country
Kinds :
> Proper Noun
> Common Noun
> Material Noun
> Collective Noun
> Abstract Noun
> Possessive Noun
WHAT ARE VERBS?
Definition :
A verb is a member of the syntactic class of word that
> Typically signal events and action
> Word that tells of an action or state of being and the time of when it is
Verbs :
• need [nɪːd]
v. require; be in distress, be under hardship; be obligated
• drench [drentʃ]
v. wet, soak, saturate
• look [lʊk]
v. turn one's eyes in order to see someone or something
• grow [grəʊ]
v. become larger; cultivate; be changed; be; become
• travel [trav•el || 'trævl]
v. go on a journey, go on a voyage, move, go from one place to another
• kick [kɪk]
v. strike with the foot
• distort [dis•tort || dɪ'stɔːt]
v. deform; falsify; twist; contort
• will [wɪl]
v. verb used together with other verbs to indicate the future tense
• be [biː;bɪ]
v. exist; occur, happen; occupy a position or place
Examples :
1. Albar needed help
2. The rain drenched us
3. Ghanee looked beautiful
4. The night grew cold
5. Peter grows tomatoes
6. I travel to Bali
7. She kicks and runs
8. That mirror distorts your image
9. When will the bank open?
10. Where are the scissors?
Kinds :
> Auxiliary Verb
> Conjunctive Verb
> Defective Verb
> Finite Verb
> Impersonal Verb Irregular Verb
> Lexical Verb
> Nonfinite Verb
> Phrasal Verb
> Reflexive Verb
WHAT ARE ADJECTIVES?
Definition :
> An adjective is a word that belongs to a class whose members modify nouns. An adjective specifies the properties or attributes of a noun referent
> A word used to qualify a noun or pronoun
Adjectives :
• diligent ['dil•i•gent || 'dɪlɪdʒənt]
adj. industrious, hard-working
• wooden [wood•en || 'wʊdn]
adj. made from wood; of wood; hard
• third [θɜrd /θɜːd]
adj. next after the second; being one of 3 equal parts
• many [man•y || 'menɪ]
adj. large in number, abundant, numerous
• enough [e•nough || ɪ'nʌf]
adj. sufficient, adequate
• these [ðɪːz]
adj. plural form of "this", word used to indicate several specific people or things
• every [ev•er•y || 'evrɪ]
adj. each
• what [hwɑt ,hwʌt /wɒt]
adj. word used in question to request specific information; which
• its [ɪts]
adj. belonging to it
• all [ɔːl]
adj. each; every; whole of
Examples :
1. Harun is diligent boy
2. My Mother buys wooden chairs
3. The third house is mine
4. Many people are poor
5. Elok had enough clothes and sufficient food
6. These houses are for teacher
7. Every pupil has to study
8. What time is it now?
9. Monkey eats fruit with its hand
10. Ali walks all the way
Kinds :
> Proper Adjective
> Adjective of Quality or State
> Adjective of Number or Quality
> Demonstrative Adjective Distributive Adjective
> Introgrative Adjective
> Possesive Adjective
WHAT ARE ADVERBS?
Definition :
A verb is a member of the syntactic class of words that
> Typically signal events and actions
> Words that modify verbs, adjectives, and other adverbs
Adverbs :
• slowly
adv. at a low rate of speed, not quickly
• yesterday ['yes•ter•day || jestə(r)deɪ]
adv. on the day before the present day
• out [aʊt]
adv. outside; on the exterior; on the outskirts; until the end; completely
• fairly [fair•ly || 'ferlɪ /'feəl-]
adv. justly; well enough, moderately; clearly
• too [tuː]
adv. excessively; also
• higher [high•er || 'haɪə(r)]
adv loftier, taller, greater than normal
• more [mɔr /mɔː]
adv. to a greater degree; additionally; further; again
• quietly ['kwaɪətlɪ]
adv. silently, noiselessly; peacefully, tranquilly, restfully
• extremely [ex'treme•ly || -lɪ]
adv. very, highly, very much; in a radical manner
• most [məʊst]
adv. to the greatest extent, to the highest degree; mainly; nearly (Old English)
• far [fɑr /fɑː]
adv. distantly; from afar; considerably; very
Examples :
1. Adverb modify verbs.
> We walk slowly (How)
> We walked yesterday (When)
> We walk out (Where)
2. Adverb modify adjective
> It was a fairly clear day
> The problem is too difficult
> The kite flies higher in the sky
> I walked into the library more quietly than before
3. Adverb modify other adverb
> Gaguk talk extremely fast
> He laughs most happily
> The ball rolled far away
References
1. Klaiman, M. H., Grammatical Voice (Cambridge Studies in Linguistics), Cambridge Univ. Press, 1991.
2. Maufur, M., English Grammar, Darussalam University Press, 1993
3. Englishclub.com
4. Klaiman, M. H., Grammatical Voice (Cambridge Studies in Linguistics), Cambridge Univ. Press, 1991.
5. Practical English Grammar, Cambridge Univ. Press
6. Babylon Corp
7. http://en.wikipedia.org/
8. http://www.sil.org/linguistics/GlossaryOfLinguisticTerms.htm/
9. http://www.englishclub.com/grammar/index.htm/
10. http://www.ethnologue.com/LL_docs/show_contents.asp
Thursday, November 17, 2011
PRESENT PROGRESSIVE USAGE
- USE I : FIRSTLY, PRESENT CONTINOUS FORM
The Present Continuous with Normal Verbs to express the idea that something is happening now, at this very moment. It can also be used to show that something is not happening now.
Am, is, are + present participle
| Positive | Negative | Question |
|
|
|
- USE II : ACTIONS TAKING PLACE AT THE MOMENT OF SPEAKING (NOW)
In English, "now" can mean: this second, today, this month, this year, this century, and so on. Sometimes, we use the Present Continuous to say that we are in the process of doing a longer action which is in progress; however, we might not be doing it at this exact second.
Examples :
· I am studying to become a doctor.
· I am not studying to become a dentist.
· I am reading the book Andrea Hirata.
· I am not reading any books right now.
· Are you working on any special projects at work?
· Aren't you teaching at the university now?
- USE III : DEVELOPMENT, CHANGING SITUATION
The sentence describes a development from one situation to another.
Signal words are not that common here, only sometimes the change of situation is emphasized by using for example more and more.
Examples :
· I’m getting better at playing the piano.
· The weather is improving.
· Our country is getting richer.
· The Internet is becoming less of a novelty.
· The Universe is expanding .
- USE IV : ARANGEMENT FOR THE NEAR FUTURE
Sometimes, speakers use the Present Continuous to indicate that something will or will not happen in the near future. In this case we have already made a plan and we are pretty sure that the event will happen in the future.
Examples :
· I’m meeting my father tomorrow.
· I’m leaving at three.
· I am meeting some friends after work.
· I am not going to the party tonight.
· Is he visiting his parents next weekend?
· Isn't he coming with us tonight?
- USE V : TEMPORARY ACTION OR NEW HABITS
(For normal habits that continue for a long time, we use the present simple).
Examples :
· He is eating a lot these days.
· She’s swimming every morning (she didn’t used to do this).
· You are smoking too much.
· They’re working late every night.
Note:
We do use verbs which express states and are normally not used with the Present Progressive. Watch the different!
· They love being together. (They are not together now.)
· They are loving being together. (They are together now.)
- USE VI : REPEATED ACTION WHICH ARE IRRITATING TO THE SPEAKER (WITH ALWAYS, CONSTANTLY, FOREVER)
The Present Continuous with words such as "always" or "constantly" expresses the idea that something irritating or shocking often happens. Notice that the meaning is like Simple Present, but with negative emotion. Remember to put the words "always" or "constantly" between "be" and "verb+ing."
Examples :
· She is always coming to class late. (I don’t like it)
· He is constantly talking. I wish he would shut up.
· I don't like them because they are always complaining.
· Andrew is always coming in late. (I don't like it.)
· Simple Present:
Andrew always comes late. (Here I don't give a comment.)
- USE VII : PHYSICAL FEELINGS
Some verbs used in the simple form can also be used in the continuous form. That's typically when they have an active meaning or emphasize change. Very often these sentences have a completely different meaning:
| Verb Form | Verb | Example | Meaning |
| Simple | to think | I think you should see a doctor | opinion |
| Continuous | to be thinking | I'm thinking of changing my flat | trying to reach a decision |
| Simple | to love | I love going to the cinema | feeling |
| Continuous | to be loving | You look great in this hat. I'm loving it, man! | emphasis or gradual process |
| Simple | to smell | I smell something burning | sense |
| Continuous | to be smelling | My baby was smelling a flower | activity |
| Simple | to have | He's really rich — he has 3 cars | possession |
| Continuous | to be having | When you called me, I was having a bath | activity |
| Simple | to see | I can see you have a big garden | sense |
| Continuous | to be seeing | I'm seeing him later | appointment |
| Simple | to taste | I could taste a lot of sugar in the wine | sense |
| Continuous | to be tasting | He was tasting the cake and said it was OK | activity |
Keep in mind there is a group of verbs that can be used in both the continuous and simple forms with no difference. These are, for example, the verbs "to hurt" and "to feel":
- How is Maryfeeling after the accident?
- How does she feelafter the accident?
- USE VIII : FINALY, VERBS ARE NOT USED IN PROGRESSIVE FORMS
Some English verbs, which we call state, non-continuous or stative verbs, aren’t used in continuous tenses (like the present continuous, or the future continuous). These verbs often describe states that last for some time. Here is a list of some common ones:
Stative (or State) Verb List
| like | know | belong |
| love | realise | fit |
| hate | suppose | contain |
| want | mean | consist |
| need | understand | seem |
| prefer | believe | depend |
| agree | remember | matter |
| mind | recognise | see |
| own | appear | look (=seem) |
| sound | taste | smell |
| hear | astonish | deny |
| disagree | please | impress |
| satisfy | promise | surprise |
| doubt | think (=have an opinion) | feel (=have an opinion) |
| wish | imagine | concern |
| dislike | be | have |
| deserve | involve | include |
| lack | measure (=have length etc) | possess |
| owe | weigh (=have weight) |
|
Examples:
- I think you look pretty today. meaning: Opinion
- I'm thinking of moving to San Francisco. meaning: Act of thinking
Note
A verb which isn’t stative is called a dynamic verb, and is usually an action.
- REFERENCES
- Practical English Usage 3e - Michael Swan OCR
- http://www.perfect-english-grammar.com/
- http://www.englishpage.com/verbpage/
- http://www.englisch-hilfen.de/en/grammar/
- http://www.englishtenseswithcartoons.com/tenses/












